DMID Business Insight : Sharing serta Live Q & A Bersama Yasa Singgih (Founder Men’s Republic)

DMID Business Insight
18 Oktober 2017
Bagikan artikel ini
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares

Bagikan artikel ini :

Sekarang ini peminat di dunia fashion bukan hanya dari kaum wanita, tetapi sudah banyak pria yang sangat memperhatikan penampilan mereka.

Bukan cuma untuk sekedar gaya, tapi juga bisa jadi karena tuntutan dari pekerjaan mereka.

Melihat besarnya peluang dalam dunia fashion, orang yang aware tentang hal ini langsung membuka bisnis fashion dan clothing.

Ada beberapa orang yang memfokuskan untuk membangun dan menjalankan bisnis fashion dan clothing khusus untuk pria.

Manzone atau Damn! I love Indonesia adalah beberapa contoh brand yang menyediakan fashion dan clothing untuk para pria.

Nah! Berkaitan dengan topik di atas, DigitalMarketer.id membuat sebuah acara khusus berjudul DMID Business Insight.

Awal mula pembuatan acara ini adalah melihat banyaknya anggota di DMID Mastermind di Facebook yang memiliki bisnis yang berbeda-beda.

Dengan adanya acara ini, diharapkan bagi mereka yang memiliki bisnis yang berhubungan dengan topik-topik tertentu nantinya bisa terbantu dan menjalankan bisnis mereka agar menjadi lebih baik lagi.

Pada tayangan perdana DMID Business Insight, DMID berhasil menghadirkan sesosok anak muda yang telah sukses menjalankan bisnis di bidang fashion dan clothing untuk sharing di live Q & A Facebook Group DigitalMarketer.id MasterMind.

Ia adalah Yasa Singgih, founder dari Men’s Republic dan sudah menjalankan bisnisnya dari tahun 2014.

Di awal Live, Yasa memperkenalkan diri dan bercerita sedikit mengenai latar belakang dan sedikit flashback tentang bisnis pertamanya sampai yang sekarang ini.

1

Awalnya ia pertama kali mencari uang ketika duduk di bangku SMA kelas satu tapi baru benar-benar fokus ke bisnis ketika ia melanjutkan pendidikan dan mengalami keterdesakan harus membiayai kuliahnya di tahun 2014.

Ia berpikir bagaimana caranya mendapatkan penghasilan untuk membiayai kuliah saat itulah ia terjun ke bisnis sepatu ini dengan tidak sengaja.

Kebetulan di tahun 2014 itu ayahnya baru saja pensiun setelah 30 tahun bekerja di sebuah perusahaan sepatu.

Semua bermula ketika Yasa berdiskusi dengan ayahnya dan menyampaikan sebuah ide untuk membuat sepatu untuk dijual.

“Papa kan udah punya banyak knowledge dan networking di industry ini selama 30 tahun, sayang banget kalau menghilang begitu saja.” Ucapnya saat itu.

2

Idenya disetujui dan kemudian ia mendapat link di Bandung yang merupakan teman ayahnya.

Bermodal hutang dulu, ia membuat lima lusin sepatu dengan term dua bulan kemudian sudah bisa bayar.

Untuk meyakinkan produsen sepatunya, Yasa menyampaikan kalau dulunya ia sempat berbisnis yang lain seperti kaos, kuliner, baru ke bisnis sepatu.

Baginya, networking, maintaining relationship, dan menjadi orang baik adalah kunci untuk mendapatkan link dan kepercayaan dari orang lain, terutama dalam berbisnis.

Selesai perkenalan, lanjut ke sesi tanya jawab. Yasa menjawab berbagai pertanyaan yang sudah diajukan oleh audience.

3

Pertanyaan pertama tentang bagaimana step-step (workflow) awal dalam membangun bisnis clothing sehingga berhasil sampai tahap ini.

Yasa bercerita kalau pada awal bisnisnya berjualan kaos, ia tidak menggunakan workflow. Ia hanya mengambil barang, memilihnya, kemudian menjual barangnya.

Setelah 3,5 tahun barulah dirinya melakukan sebuah refleksi apa yang sudah ia lakukan.

Yang bisa ia sarankan kepada audience adalah memikirkan mau menjual produknya ke market mana, kemudian pilih produk yang mau dijual.

Setelah berhasil di target market kecil, beralih ke scale up bisnis. Tapi karena saat itu dia keterbatasan modal dan tidak mampu membuka toko oflline, ia mencoba ke online.

Beralih ke online, semua harus disesuaikan lagi.

“Begitu masuk ke bisnis online harus tahu target marketnya kemana. Mau dijual ke Instagram kah, Facebook kah atau Twitter kah. Begitu tahu target market” Ungkapnya.

Mengenai barang yang dijual itu diambil dari pihak ketiga atau produksi sendiri, pria kelahiran 1995 ini menjelaskan kalau dirinya bekerja sama dengan produsen.

Sampai saat ini ia telah bekerja sama dengan 5 produsen yang memiliki pabrik pembuatan sepatu yang belokasi di daerah Bandung dan Tangerang.

Berhubungan dengan bisnis lokalnya ini, Yasa juga berbagi cerita pada saat Live.

Waktu temannya pergi keluar negeri, temannya mampir ke sebuah toko merchandise Manchester United atau MU untuk membeli pakaian.

Saat dilihat produknya dibuat dari mana, ternyata made in Indonesia!

Jadi apa yang bisa disimpulkan dari cerita Yasa? Ternyata produk buatan Indonesia itu tidak kalah bagus dengan produk luar.

Peraih penghargaan sebagai The Youngest Forbes 30 Under 30 Asia in Retail & E-commerce Category 2016 ini juga berkata,

“Di Indonesia, ada semua produk bagus. Kita ini bukan kekurangan sumber daya orang yang membuat produk, tapi yang kurang itu adalah sumber daya orang untuk membuat brand yang bagus.”

4

Apa yang ia sampaikan ini juga menjadi jawaban dari pertanyaan berikutnya yang berhubungan dengan masalah pemilihan ekspedisi keluar negeri untuk berbisnis secara internasional.

Memang dirinya sudah pernah mengirimkan produknya ke 12 negara di luar Indonesia. Mulai dari yang paling dekat, Malaysia, sampai yang paling jauh ke Nigeria.

Tapi yang jadi kendala adalah masalah ongkos pengiriman produknya, harga produknya tidak seberapa tapi ongkirnya bisa sampai ratusan ribu sampai jutaan rupiah.

Oleh karena itu, Yasa menyarankan untuk berbisnis ada baiknya kalau dimulai dari yang lokal dulu saja.

Ketika sudah dirasa cukup dan ingin scale up bisnis keluar negeri, carilah partner yang berdomisili di negara yang menjadi target penjualan produk dan adakan kerjasama.

Soal pertanyaan tentang bagaimana cara Yasa dalam menentukan model sepatu, point utamanya adalah harus banyak melakukan explorasi karena ia mengaku kalau dirinya ini bukan tipe perancang melainkan tipe pebisnis.

Ia memulai explorasi ke department store seperti Matahari, Sogo dll untuk mengecek koleksi sepatu yang dijual di sana.

5

Atau kalau sedang malas, ia biasa mengecek E-commerce besar untuk mengecek bagian White Labelnya.

Karena pada bagian white label sebuah E-commerce ada kumpulan produk yang paling laris terjual. Ia mengintip dari situ.

Itu baru segelintir informasi yang Yasa sampaikan pada saat Live. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang dijawab oleh ia sampai pada akhir Live di acara DMID Business Insight.

Jika Anda penasaran untuk menonton video lengkap DMID Business Insight dari Yasa Singgih, Anda bisa langsung mengklik gambar di bawah ini untuk bisa menonton video Livenya.

final 6

Yang perlu diingat adalah ketika Anda mendapatkan ilmu, harus segera dipraktikkan agar tidak lupa.

Nantikan DMID Business Insight berikutnya dengan pembicara lainnya yang sudah pasti akan semakin menarik untuk diikuti dan sampai jumpa!

Anda punya cerita seru tentang berhubungan dengan topik DMID Business Insight kali ini? Atau ingin berbagi pengalaman kepada Digitalmarkerter.id dan pembaca lainnya?  Anda bisa langsung mengisi kolom komentar di bawah ya!

Bagikan artikel ini :

Bagikan artikel ini
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>