DMID Business Insight : Sharing serta Live Q & A Bersama Wilson Gunawan (Founder Towel Boss)

15 Desember 2017
Bagikan artikel ini
  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares

Bagikan artikel ini :

Yang namanya berbisnis itu tidaklah harus selalu berpatokan, “oh saya harus buka toko nih kalau begitu!”

Ya memang ada sebagian orang yang beranggapan harus punya toko untuk berbisnis. Sah-sah saja, karena semua keputusan memang kembali kepada diri masing-masing.

Tapi jaman kan sudah semakin canggih, kita sudah bisa memanfaatkan internet untuk berbisnis.

Anda tinggal cari tahu kira-kira peluang apa yang bisa ditangkap untuk diwujudkan menjadi bisnis.

Salah satu contohnya adalah bisnis retail.

Mungkin Anda bertanya, “emangnya bisa sukses ya retail begitu?”

Tentu saja bisa! Sebagai buktinya, DMID Business Insight kali ini mengajak sesosok anak muda yang telah sukses di bidang retail untuk sharing dan tanya jawab juga.

Ia adalah Wilson Gunawan. Founder dari Towel Boss.

Loh tunggu, dia jualan towel!? Yes! Anda tidak menyangka kan? Oleh karena itu, simak terus review dari acara DMID Business Insight ini ya!

Perkenalan & Flashback Wilson Gunawan di DMID Business Insight

Di awal DMID Business Insight yang diadakan secara live ini, Wilson memperkenalkan diri dan sedikit flashback tentang awal mula bagaimana ia menemukan ide bisnisnya.

Sebenarnya pekerjaan ia dulu adalah sebagai agen asuransi.

Tapi setelah menjalani pekerjaan sebagai agen asuransi selama 3 tahun ia merasa tidak mendapatkan hasil yang diharapkan, ia mulai berpikir untuk mendapatkan pekerjaan lain.

Ide untuk berjualan towel ini datang ketika ia berbincang dengan temannya yang merupakan seorang agen asuransi juga.

Temannya bercerita kalau orang tua dari pacar temannya ada yang membuka bisnis berjualan towel di daerah Bogor.

Wilson menyimak dan tertarik dengan cerita dari temannya itu. Ia juga sampai menghitung omset yang dihasilkan usaha orang tua pacar temannya itu.

Ternyata ketika dihitung, omsetnya mencapai 100 juta rupiah perbulannya!

Pemuda berusia 22 tahun ini akhirnya memutuskan untuk terjun sebagai entrepreneur.

Ia mulai menjalankan bisnis tersebut dan berharap kalau ia juga akan segera sukses dan menghasilkan profit.

Namun ternyata hal itu tidaklah semudah yang dibayangkan. Ia harus berjuang di bulan pertama dan kedua saat memulai bisnis ini.

towel boss

1 tahun setelah ia memulai bisnis, barulah ia melihat hasil usahanya.

Wilson berkata,

“Mulai menjalankan Towel Boss itu Desember akhir ya. Waktu itu baru cari-cari tahu tentang website, dan awalnya pakai Sirclo. Tapi hasilnya ga ada, jualan di Instagram juga tidak ada perkembangan karena waktu itu followernya sedikit dan asal upload foto aja.”

Ia bingung kenapa bisnisnya stuck di tempat, sampai ia melihat saudara dari salah satu temannya yang berjualan elektronik di marketplace dan bisnis itu berkembang.

Ia merasa penasaran dan bertanya kepada saudara temannya itu. Ternyata jika ingin berbisnis online, intinya adalah SEO.

Setelah mencari-cari orang untuk SEO, dia juga harus menunggu jawaban dari orang tersebut.

Di saat yang berdekatan, ia bertemu dengan temannya yang lain, dan dari situlah ia disarankan untuk mengikuti workshop Denny Santoso.

Dari situlah ia mendapatkan mentor yang membantu ia dalam memberikan saran sehingga bisnisnya kini naik secara perlahan dan akhirnya menjadi besar seperti sekarang ini.

Sesi Q & A

DMID Business Insight semakin seru ketika beralih ke sesi tanya jawab.

Banyak sekali pertanyaan yang terkumpul dan siap dijawab oeh Wilson.

Dimulai dari soal strategi apa yang digunakan untuk memasarkan produk.

Alumni dari Binus ini menjawab kalau strategi yang ia gunakan untuk Instagram adalah dengan menggunakan hastag (#).

instagram-hashtags

Untuk memaintain uploadnya agar tidak tenggelam (karena sebuah postingan di Instagram seperti yang kita tahu secara otomatis terus turun karena terganti dengan postingan baru), dirinya menggunakan strategi jasa repost sehingga postingan lamanya akan direpost dan tetap muncul lagi ketika orang mencari hastag yang sama.

“Dari situ lumayanlah nambah 10-20% dari sales. Itu kan lumayan banget gitu.” Tambahnya.

Ada juga yang bertanya soal pemasaran produknya. Apakah ia menyediakan system reseller.

Wilson sendiri tidak menerima reseller dan semuanya dihandle sendiri. Dirinya berfokus untuk membangun brand premium untuk bisnis Towel Boss yang dijalankan saat ini.

Ditanya soal apakah ada kemungkinan untuk menggunakan system reseller, ia mengaku kalau ke depannya tetap berpegang pada jenis bisnis premium ini dan ia akan membangun bisnis yang jenisnya gift juga tapi dengan produk yang berbeda.

Ia akan menscale up bisnisnya dengan memperbanyak niche.

Bagaimana cara dirinya dalam menghire karyawan?

Recruit, recruiter, hire.

Awalnya ia hanya bertanya kepada temannya, apakah ada yang mau bekerja dengannya.

Belajar dari system awal yang salah, ia memberikan saran kalau ingin menghire karyawan, sebaiknya jangan asal menerima karena keadaan terdesak.

“Seiring waktu berjalan, baru menggunakan system interview. Untuk masa probation itu sekitar 2 minggu sampai 1 bulan. Kalau lulus lanjut, kalau ga ya cari yang lain.”

Jika dulu ia mencari karyawan dari info mulut ke mulut, sekarang ini Wilson menggunakan info loker atau Facebook Ads untuk membantunya menyebarkan iklan lowongan kerja.

Ternyata, pertanyaan yang diajukan selama DMID Business Insight berlangsung bukan cuma dari Facebook, ada beberapa orang yang mengajukannya lewat Instagram juga.

Salah satunya berhubungan dengan iklan. Saat ini dari pengalaman, lebih bagus iklan di Facebook atau Instagram.

Menanggapi ini, Wilson menjelaskan kalau nichenya lebih di Instagram. Facebook atau Instagram itu tergantung dengan market Anda.

Ia kembali menyarankan untuk tidak terpancing oleh orang lain. Seseorang yang iklannya sukses di Facebook, belum tentu cara itu berhasil di kita.

Yang penting adalah mencari tahu dulu produk Anda cocoknya dimana baru mulai pikirkan iklan.

Bagaimana kalau orang mengorder produk dari Towel Boss?

Wilson menjawab sampai saat ini orang-orang mengorder melalui chatting. Walaupun dihandle oleh 4 orang customer service, ia akan mengarahkan customer untuk ke depannya mengorder lewat website.

supplier

Berkaitan dengan supplier produk, untuk sekarang ini ia bergantung pada 1 supplier saja, dan nanti ada supplier lain untuk masing-masing produknya.

Pertanyaan menarik lainnya tentang competitor, strategi apa yang ia gunakan kalau ada pesaing yang masuk, produknya serupa dan menghancurkan harga.

Menurutnya kemungkinan untuk orang untuk masuk dan bersaing dengan seperti itu sangat kecil.

“Pesaing itu artinya mau menjiplak motif towel sama persis misalkan ya. Towel Boss sendiri setiap motif towelnya diproduksi secara terbatas. Setiap produk habis, produksi motif akan terus ganti-ganti.”

Untuk mengatasi stock produk yang sudah limited itu, ia juga secara tidak langsung menggunakan taktik scarcity untuk menarik orang untuk membeli produknya.

Pertanyaan Lainnya..

Bagaimana soal cara dirinya menentukan market, funnel, dan lain-lainnya?

Nah, semua pertanyaan itu bisa Anda dapatkan jawabannya dengan menonton selengkapnya di group DMIDMastermind.

Atau kalau Anda kesulitan mengakses video, Anda bisa mengklik gambar di bawah ini.

fix image

Nantikan DMID Business Insight berikutnya dengan pembicara lainnya yang sudah pasti akan semakin menarik untuk diikuti dan sampai jumpa!

Bagikan juga pengalaman Anda ke DMID dan pembaca lainnya yang berhubungan dengan topik ini dengan mengisi kolom komentar di bawah ini ya!

Bagikan artikel ini :

Bagikan artikel ini
  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *