8 Alasan Psikologis Mengapa Orang Membeli Produk Anda

25 Januari 2016
Bagikan artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bagikan artikel ini :

Pebisnis mana yang tidak ingin melihat usaha yang dijalankannya tumbuh dan berkembang menjadi lebih besar.

Untuk mewujudkan itu, sudah pasti banyak hal yang perlu ditingkatkan.

Salah satu faktor untuk meningkatkan bisnis adalah konsumen.

Semakin banyak konsumen yang mengambil dan membeli produk atau menggunakan jasa Anda, semakin cepat Anda dapat memperoleh profit bisnis.

Semakin mengalir pemasukan, semakin besar peluang Anda untuk merealisasikan ide-ide baru Anda untuk mengembangkan bisnis.

Tetapi kebanyakan pebisnis hanya memikirkan bagaimana caranya mendapat profit besar dengan menerapkan berbagai strategi.

Padahal, belum tentu startegi yang digunakan dapat menarik konsumen.

Para pebisnis suka lupa, disamping mengejar profit sebenarnya memahami perilaku dan pemikiran calon konsumen juga merupakan suatu hal yang menarik.

Ada sebuah pertanyaan umum yang sering Anda dengar, tetapi belum tentu bisa dijawab secara jelas.

“Sebenarnya apa yang membuat seseorang mengambil keputusan untuk mengambil sebuah penawaran dan membeli produk?”

Dalam artikel ini Anda akan diajak untuk mengetahui serta memahami apa yang membuat orang-orang membeli sebuah produk atau jasa.

Mari kita mulai.

 

Mengapa Orang Memutuskan untuk Membeli?

Biasanya seseorang akan melakukan pertimbangan lebih dulu sebelum ia memutuskan untuk membeli.

Sebuah pertimbangan berkaitan langsung dengan psikologis orang tersebut.

Dalam membuat keputusan apapun, manusia cenderung berpikir dan melakukan pertimbangan sesuai dengan pola pikir dan kondisi psikologisnya.

Dengan memahami pola pikir dan kondisi psikologis, Anda dapat melihat berbagai macam kecenderungan ini.

Mencoba menerapkannya dalam strategi pemasaran justru akan membuat Anda menjadi tepat sasaran.

Berikut ini ada 8 alasan psikologis yang membuat orang mengambil dan membeli produk Anda :

  1. Otak Manusia Dirancang untuk Mengambil Keputusan secara Implusif (Terburu-buru)

 implusif

Penelitian yang telah dilakukan oleh Chase, Gallup, dan Harris Interactive menunjukkan bahwa kebanyakan orang melakukan pembelian secara impulsif.

Dapatkah Anda mengingat kapan terakhir kali Anda berbelanja di toko, toko online, pasar, atau supermarket?

Apakah waktu itu Anda memilih produk dengan waktu yang cepat dan spontan?

Mayoritas orang akan melakukan pembelian dengan cepat.

Sistem berpikir yang digunakan manusia ketika mencari sebuah produk ialah dengan menggunakan teknik berpikir heuristik.

Jarang sekali seseorang melakukan pertimbangan yang lama saat membeli sebuah produk.

Jika Anda perhatikan, perusahaan-perusahaan yang menjual produk atau jasa akan menggunakan kalimat promosi seperti

  • buy now
  • try it now
  • subscribe now
  • get it now

Menurut sebuah penelitian, otak manusia memiliki sedikit kemiripan dengan otak reptil, terutama di bagian neocortex.

Bagian tersebut yang membuat manusia berperilaku obsesif-kompulsif layaknya seekor reptil.

Sementara itu, kata “now” merupakan kata yang dapat membuat orang tersugesti untuk segera membeli produk yang ditawarkan.

  1. Otak Manusia Lebih Mudah Memposes Gambar daripada Teks

Visual_literacy

Coba Anda perhatikan kemasan makanan, kemasan barang elektronik, hingga konten dan penataan halaman website.

Hampir seluruhnya sangat mementingkan unsur estetika, penataan warna dan gambar.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Steve Jobs, bahwa hal tersebut hanya akan didapatkan oleh cita rasa dan seni.

Membuat sesuatu yang simpel justru lebih sulit ketimbang membuat sesuatu yang rumit. Begitu pula dengan membuat konten pemasaran dalam bentuk gambar.

Dengan meningkatkan kualitas gambar produk yang ditawarkan, penjualan Anda pun akan meningkat.

  1. Warna Biru Diartikan sebagai Lambang Kepercayaan

trust25-crop-600x338

Jika masih bingung dengan warna yang paling tepat untuk kemasan produk atau halaman web, tidak akan ada salahnya untuk memilih warna biru.

Banyak sekali situs terbaik di dunia menggunakan warna ini sebagai tema. Seperti Facebook, Twitter, Paypal, dan Windows 10 yang didominasi oleh warna biru.

Di Indonesia, perusahaan besar yang menggunakan warna biru sebagai tema misalnya Bank BCA, Bank Mandiri, Kompas Gramedia, Metro TV, dan Bluebird. 

Ada sebuah alasan mengapa perusahaan besar di berbagai bidang industri menggunakan warna biru sebagai temanya.

Dalam cabang ilmu psikologi yang secara khusus mempelajari efek psikologis warna, warna biru juga dapat menstimulasi rasa kepercayaan yang dimiliki oleh seseorang.

Baca juga >>> Psikologi Warna : Bermain dengan Warna untuk Tingkatkan Konversi Penjualan <<<

  1. Otak Manusia akan Mempercayai Brand Ketika Kemasan Produk atau Website Menggunakan Kata yang Tepat

Jeremy Smith, seorang ahli conversion optimization mengatakan bahwa kepercayaan merupakan inti dari proses jual-beli.

Kata seperti apa yang bisa dipercaya oleh banyak orang?

  • Otentik: Kebenaran dan otoritas adalah hal yang penting. Sebuah iklan akan dipercayai dibuat oleh orang-orang terpercaya.
  • Terjamin: Iklan yang terpercaya bisa menggunakan testimoni pihak ketiga sebagai orang netral.
  • Bergaransi: Menurut penelitian yang dilakukan oleh KissMetrics, 60 persen orang akan membeli sebuah produk jika ada sebuah kata yang memiliki asosiasi dengan kata “garansi”.
  • Resmi: sebuah produk resmi mencerminkan pada sistem kerja yang berlandaskan pada proses dan standarisasi.
  1. Ketika Pikiran Mengatakan Yes Sekali, Maka akan Memiliki Kemungkinan untuk Mengulang Yes Lagi

yesyesyes

Jika Anda bisa mendapatkan persetujuan pertama dari seorang konsumen untuk melakukan sign up pada alamat email-nya, kemungkinan besar ia akan memberikan persetujuan untuk kedua kalinya.

Hal ini disebut sebagai foot in the door technique dalam dunia pemasaran.

Orang-orang marketing telah melakukan hal tersebut selama beberapa generasi.

Jadi, mulailah untuk menanyakan hal-hal kecil hingga permintaan yang lebih besar di kemudian hari kepada konsumen Anda.

  1. Konsumen akan Mengambil Keputusan Berdasarkan Informasi Pertama yang Dilihat

Thumbs_Up_crop380w

Menurut anchoring effect, rata-rata orang selalu mempertimbangkan informasi pertama yang mereka dapatkan ketika dihadapkan pada pengambilan keputusan.

Setelah melihat produk yang ditawarkan secara sekilas, mayoritas konsumen akan melihat harga produk.

Tampilkanlah harga yang sesuai dengan ekspektasi konsumen di toko atau web Anda.

Dari mana kita bisa mengetahui harga yang diekspektasi oleh konsumen? Jawabannya adalah riset harga.

  1. Setiap Keputusan Tidak Terlepas dari Sisi Emosional

Roller-Coaster-of-Emotions

Seorang pengambil keputusan yang memiliki posisi penting selalu merasa independen, rasional, dan tidak terpengaruh oleh emosi.

Dalam realitasnya, ilmu neurosains telah menunjukkannya bahwa setiap keputusan sangat tergantung dari peranan emosi yang dimiliki oleh seseorang.

Jika emosi tidak terlibat di dalamnya, keputusan akan sangat sulit diambil.

Orang yang terlalu rasional terlalu banyak menimbang-nimbang.

Dalam mengambil keputusan secara cepat, seseorang membutuhkan spontanitas.

Spontanitas diproduksi melalui naluri atau insting yang hanya bisa dilakukan oleh otak kanan.

Setiap orang melakukan keputusan berdasarkan masukan-masukan fungsi kognitif yang berbeda sehingga emosi juga memiliki peranan yang besar di dalamnya.

Oleh karenanya, orang yang menggunakan emosinya untuk mengambil keputusan cenderung mendapatkan keputusan yang tepat.

  1. Sesuatu yang Diberi Label akan Memiliki Kesan Sama Seperti Label Tersebut

Dalam suatu studi, sebuah kelompok pernah diberikan sebuah sugesti bahwa mereka harus terlibat lebih aktif dalam kampanye sementara kelompok lainnya tidak diberikan sugesti.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kelompok partisipan yang diberikan sugesti memiliki tingkat keaktifan kampanye 15% lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok partisipan yang tidak diberikan sugesti.

Studi tersebut menunjukkan bahwa orang-orang yang diberikan sugesti akan berperilaku sesuai dengan label yang diberikan kepada mereka.

Saat memberikan label kepada sebuah produk, seolah-olah kita memberikan sugesti kepada pembeli agar pembeli percaya terhadap label pada produk tersebut.

Jadi, pemberian label kepada produk juga akan menentukan dibeli atau tidaknya produk tersebut.

Ketika Anda sudah memahami cara berpikir konsumen, maka Anda sudah selangkah lebih baik dalam bidang penjualan.

Jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal, gunakan wawasan ini dengan baik. Anda dapat menggabungkan apa yang telah Anda ketahui dengan strategi marketing yang tepat.

Lakukan penelitian, pelajari apa yang Anda dapat, kemudian uji coba, lalu wujudkan dalam bentuk tindakan.

Bila Anda memiliki kesulitan atau cerita menarik dan ingin disampaikan,Digitalmarkerter.id akan sangat antusias jika Anda berbagi pengalaman Anda pada kolom di bawah ini.

Bagikan artikel ini :

Bagikan artikel ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *